Oleh: Ejak

Rick and Morty merupakan sebuah kartun sci-fi ciptaan Justin Roiland dan Dan Harmon yang tayang pertama kali di bulan Desember 2013. Kartun ini menceritakan tentang petualangan seorang ilmuwan paling pintar se-alam semesta bernama Rick Sanchez dan cucunya yaitu Morty Smith. Banyak hal yang dapat kita ambil sebagai ‘moral value’ yang menarik dari serial tv ini.

 

Di musim kedua, tepatnya episode “The Rick Must Be Crazy” mobil yang biasa digunakan Rick dan Morty untuk berpetualang tidak dapat dinyalakan. Rick mencoba mencari tahu apa yang sebenernya terjadi dan kemudian menemukan bahwa baterai yang menjadi sumber daya mobil mereka rusak. Rick lalu mengajak Morty untuk masuk kedalam baterai tersebut yang ternyata merupakan sebuah ‘microverse’. Microverse merupakan sebuah dunia buatan Rick yang berisi alien dengan kehidupan masyarakat yang sama seperti kita pada umumnya. Rick memberi alien tersebut sebuah alat bernama Gooblebox. Gooblebox merupakan mesin yang digunakaan untuk menciptakan sumber listrik bagi mereka. Tanpa diketahui oleh alien di microverse tersebut, Gooblebox juga mengalirkan energi yang digunakan  untuk mengisi baterai yang ada di mobil Rick, jadi selain mereka menciptakan listrik bagi mereka sendiri, mereka juga menyediakan energi bagi mobil Rick.

 

Rick akhirnya mengetahui bahwa rusaknya baterai mobil miliknya disebabkan oleh perbuatan salah satu alien pintar di microverse ciptaannya yaitu Zeep Xanflorp. Zeep menemukan sebuah teknologi baru yang menggantikan Gooblebox yaitu ‘miniverse’. Miniverse merupakan sebuah ‘Microverse’ versi Zeep yang di dalamnya juga terdapat dunia buatan lengkap dengan kehidupan untuk menyediakan energi bagi dunia Zeep. Singkat cerita akhirnya Zeep mengetahui bahwa dirinya tinggal di dalam dunia ‘microverse’ yang digunakan juga untuk menciptakan energi untuk Rick, sama seperti bagaimana dia menciptakan miniverse miliknya. Dan setelah perseteruan terakhir dimana Rick mengalahkan Zeep di sebuah perkelahian, Rick membiarkan Zeep hidup. Rick kemudian menjelaskan bahwa:

 

“[Zeep] knew one of two things were going to happen. Either he would have to toss a broken battery, or the baterry wouldn’t broken anymore”

 

Karena Zeep tidak ingin dunianya hancur seperti apa yang terjadi di ‘miniverse’ ciptannya, dia mengembalikan seluruh kehidupan di ‘microverse’ agar kembali menggunakan Gooblebox untuk menciptakan energi.

 

Yang kemudian menjadi menarik adalah bahwa Rick yang berkuasa atas microverse miliknya melakukan apa yang disebut Antonio Gramsci sebagai hegemoni. Hegemoni dalam bahasa Yunani kuno disebut ‘eugomonia’, sebagaimana dikemukakan Encyclopedia Britanica dalam prakteknya di Yunani, diterapkan untuk menunjukkan dominasi posisi yang diklaim oleh negara-negara kota (polis atau citystates) secara individual, misalnya yang dilakukan oleh negara kota Athena dan Sparta terhadap negara-negara lain yang sejajar (Hendarto, 1993;73). Lebih lanjut dominasi merupakan konsep dari realitas yang menyebar melalui masyarakat dalam sebuah lembaga dan manifestasi perorangan. Pengaruh dari hal ini bisa berbentuk moralitas, adat, religi, prinsip-prinsip politik dan semua relasi sosial, terutama dari intelektual (Arif 2015).

 

Secara garis besar, konsepsi mengenai hegemoni oleh Gramsci diambil secara dialektis lewat pemikiran Machiaveli hingga Pareto. Dari Machiacelli hingga Pareto, Konsepsi yang digunakan adalah tentang kekuatan dan persetujuan. Bagi Gramsci suatu klas sosial akan memperoleh keunggulan (supremasi) melalui dua cara yaitu yang pertama dominasi atau paksaan dan yang kedua adalah melalui kepemimpinan intelektual. Cara yang kedua inilah yang kemudian disebut oleh Gramsci sebagai Hegemoni (Arif 2015; 119).

 

Lebih lanjut kemudian Gramsci mengatakan bahwa Machiaveli coba mendiskusikan bagaimana semestinya seorang pangeran (pemimpin) melakukan tindakan jika dia mau memimpin sebuah negara (Gramsci, 1976;126). Sebagai konsekuensi dari hal ini maka seorang pemimpin memiliki dua buah pilihan yaitu menjadi seorang tiran atau tidak. Kedua pilihan itu kemudian bergantung pada kondisi apakah pemimpin itu mampu untuk memimpin dan melayani rakyat yang dipimpinnya.

 

Gramsci melihat bahwa jika seorang pangeran akan memerintah secara efektif, maka jalan yang dipilih adalah meminimalisir resistensi rakyat dan bersamaan dengan itu pangeran harus menciptakan sebuah ketaatan yang spontan (Gramsci, 1976;144). Rick Sanchez melakukan ini dengan dua cara, untuk mengurangi resistensi dari microverse ciptaannya, ia memberikan mereka alat yang mampu menunjang kehidupan mereka. Selain itu Rick juga menciptakan sebuah wacana bahwa alat tersebut merupakan satu-satunya cara agar mereka mampu memiliki tenaga dengan cara mem’bunuh’ Zeep dengan cara menghancurkan miniverse ciptaan Zeep. Dengan memberikan Gooblebox kepada rakyat microverse, Rick meminimalisir dampak resistensi dari masyarakat, dan menciptakan ketaatan spontan karena hal itu lah Hegemoni tercipta.

 

Di dunia nyata kita bisa melihat berbagai wujud Hegemoni itu dalam berbagai hal. Semisal ketika zaman orde baru awal berkuasa. Untuk mengukuhkan hegemoninya Orde baru mengambinghitamkan Partai Komunis Indonesia. Menciptakan musuh bersama yaitu Komunisme melalui berbagai macam lembaga yang dimilikinya. Melalui buku sejarah kita diberikan satu versi tentang peristiwa 30 September 1965 yang masih simpang siur kebenarannya hingga sekarang, melalui film yang wajib ditonton mulai dari anak kecil hingga orang tua ketakutan akan komunisme diciptakan, segala macam diskusi yang berbau kiri akan di cap sebagai musuh oleh negara. Kiranya hal tersebut lah yang menciptakan  peminimalisiran resistensi dari mereka yang berpaham  komunis,  masyarakat  awam  pun kemudian menormalisasi bahwa komunisme memang salah tanpa kritik lebih lanjut. Rezim maha benar pun tercipta.

 

Pun di masa sekarang dimana beberapa waktu lalu negara dengan narasi pancasilanya membangun konstruksi bahwa mereka yang memiliki paham fundamentalis islam dibuat menjadi musuh bersama melalui berbagai lembaga.  Media massa, Pendidikan, Agama, Politik, Regulasi dan berbagai macam lembaga yang dimiliki oleh negara menjadikan  mereka yang berseberangan dengan  yang berkuasa menjadi musuh bersama.

 

Di lingkungan yang lebih kecil semisal, di beberapa fakultas dimana mereka memiliki budaya sendiri seperti “Guyub/ Jiwa Korsa”, kakak tingkat yang memiliki kekuatan penuh terhadap bagaimana mahasiswa baru dibentuk melakukan hegemoninya melalui ospek dan berbagai cara lainnya. Mereka yang tidak mau mengikuti klas yang berkuasa itu kemudian di cap jelek oleh mereka yang berkuasa. “angkatan bobrok”; “ga guyub”; “penghancur nilai-nilai” dan wacana lain ditiupkan oleh mereka yang berkuasa dan kemudian menciptakan wacana yang menormalisasi hal itu. Pada saat orang-orang mulai menormalisasi dan mulai memusuhi mereka yang dianggap menyimpang dari nilai tersebutlah hegemoni berjalan.

 

Tidak semua dari kita sepakat dengan komunisme atau mungkin negara Islam, pun tidak semua dari kita juga sepakat dengan pancasila, pun tidak semua dari kita sepakat dengan ospek dengan pola tertentu. Namun ketika kita hanya menerima dengan mentah apa yang dikatakan kepada kita oleh mereka yang berkuasa melalui berbagai lembaganya tadi, saat itulah hegemoni bekerja. Ketika kita menormalisasi ‘Gooblebox’  yang diberikan kepada kita, maka disaat itulah hegemoni bekerja

 

Yang kemudian menjadi lucu adalah ketika kita melihat hegemoni sebagai sesuatu yang buruk namun tanpa sadar juga melakukannya. Bukankah memang seperti itu hakikat manusia? Apa yang kemudian dikatakan oleh Thomas Hobbes sebagai ‘Homo Homini Lupus’, manusia merupakan serigala bagi manusia yang lain. Maka memandang dunia dengan apa yang dikatakan teman saya sebagai ‘moralitas disney’. Melihat bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah hitam dan putih, baik dan jahat, namun kenyataannya tak seperti itu kan? Toh di dunia yang kita ‘perjuangkan’ untuk bermakna ini, bisa saja merupakan sebuah ‘microverse’ dari sebuah baterai untuk menjalankan pantat kuda yang ditumpangi oleh Jar Jar Binks kan?

 

So? Wubba lubba dub dub everyone!

 

References:

Rick and Morty Season 2 Episode “The Rick Must Be Crazy”

Arif, Nezar Patria & Andi. 2015. Antonio Gramsci: Negara dan Hegemoni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Gramsci, Antonio. 1976. Selections From The Prison Notebooks. New York: International Publisher.

Hendarto, Heru. 1993. Mengenal Konsep Hegemoni Gramsci; dalam Diskursus Kemasyarakatan dan Kemanusiaan. Jakarta: Tim Redaksi Driyakarya, Gramedia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *