Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia

oleh: Muhammad Ariz Zaki — PM 2019

Sebenar-benarnya pendidikan itu untuk mengasah kepekaan seseorang pada lingkungan sekitarnya.

Tulisan ini untuk mengingatkan kembali akan permasalahan lingkungan yang semakin meningkat. Salah satu masalah lingkungan adalah plastik sekali pakai yang terus menerus bertambah. Isu sampah plastik ini akan selalu menarik untuk dibahas, karena limbah plastik semakin meningkat dan pengelolaan terbatas.

Sudah banyak dilakukan penelitian dan dibuat kajian tentang permasalahan ini baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Jenna Jambeck dikatakan dalam penelitiannya bahwa ada sekitar 275 juta ton sampah plastik di seluruh dunia. Sekitar 4,8–12,7 juta ton sampah terbuang ke laut. Setiap satu menit, sampah plastik yang dibuang ke laut setara dengan satu truk penuh.

Di dalam studi yang sama, Indonesia menghasilkan sampah plastik sebesar 3,22 juta ton dengan sekitar 0,48–1,29 juta ton diantaranya mencemari lautan. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai negara kedua produsen sampah plastik terbesar didunia setelah Tiongkok. [1]

Mengacu dari data di atas, kita bisa melihat India berada jauh dibawah Indonesia pada posisi 12 dengan tingkat pencemaran plastik ke laut India hanya sekitar 0,09–0,24 juta ton/tahun. Padahal sebenarnya jumlah penduduk pesisir India dibanding Indonesia nyatanya hampir sama, yaitu sekitar 187 juta jiwa. Kesimpulannya, pengelolaan sampah di Indonesia masih perlu perbaikan.

Permasalahan plastik di Indonesia selain karena pengelolaan sampah yang buruk juga diakibatkan oleh penggunaan plastik yang berlebihan. Contohnya dari lingkungan terdekat kita mungkin terdapat pada TPST Piyungan Bantul yang sudah penuh atau membludak.[2] Terkait pengunaan plastik sekali pakai yang berlebihan itu akan menimbulkan dampak yang buruk, seperti tercermarnya lingkungan.

Partikel plastik beracun memiliki potensi merusak kesuburan tanah. Plastik juga mengganggu keseimbangan alam. Sampah plastik bisa mengganggu kelancaran saluran drainase. Zat yang dihasilkan dari pemusnahan sampah plastik dengan cara dibakar selain berbahaya jika terhirup manusia, juga berkontribusi mencemari udara. Yang lebih mengkhawatirkan, sampah plastik merupakan salah satu kontributor dalam perubahan iklim karena dalam proses produksi dan pengelolaannya, plastik dapat menambah emisi gas rumah kaca.

Anak cucu kita selaku generasi masa depan berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bentuk penghormatan terhadap prinsip antargenerasi. Jaminan atas perolehan lingkungan hidup yang baik diatur dalam Pasal 9 Undang-Undang №39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi sebagai berikut “setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.” Dengan demikian, timbul kewajiban bagi negara untuk melindungi dan memenuhi hak asasi manusia setiap warganya dalam memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat. Konstitusionalitas hak atas lingkungan hidup semakin ditegaskan dengan UUPPLH. sebagaimana tertuang pada Pasal 65 Ayat (1): “Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia”. Ayat (2): “Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”. Serta Pasal 67: “Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup”. Oleh karena itu, merupakan kewajiban bagi kita untuk memperhatikan permasalahan lingkungan, termasuk masalah plastik yang akan sangat berbahaya bagi masa depan apabila tidak dikelola dengan baik.

Bagaimana langkah kita

Kata kuncinya adalah bagaimana kita belajar, bergerak, dan mengorganisir.

Kita sebagai individu tentunya menjadi orang pertama untuk melakukan perubahan, kita perlu segera sadar untuk mengubah lifestyle kita dengan mengurangi penggunaan plastik. Selain itu, perubahan system secara kritikal yang mencakup perubahan kebijakan dan kepemimpinan di bidang industri juga menjadi faktor utama dalam upaya mengurangi resiko dari sampah plastik.

Setelah kita memulai dari diri kita, kita dapat berbagi ke lingkungan terdekat kita. Yaitu dengan mengajak untuk melakukan aktivitas yang dapat berkontribusi dalam pengurangan plastik sekali pakai. Misalnya kalo sekarang ya reduce dan reuse dengan memaksimalkan penggunaan plastik yang sudah kita pakai. Contohnya menggunakan kembali sebagai wadah atau ecobrick ataupun untuk hal lain.

Langkah berikutnya adalah mendorong pemerintah yang berperan sebagai pengambil kebijakan untuk mengefektifkan implementasi kebijakan pengurangan sampah sekali pakai. Kemudian juga tidak kalah pentingnya adalah community empowerment[3] dan capacity building[4] terhadap bangsa Indonesia. Selain dua langkah diatas, mendorong keterlibatan pemuda dalam pengambilan kebijakan juga perlu dilakukan, dengan berpegang pada konsep bahwa kita punya hak untuk menentukan masa depan kita dan itu akan berpengaruh ke genarasi-generasi yang akan datang, bukan hanya saat kita tua tapi lebih jauh dari itu. Dan terkait kebijakan ini, tidak hanya kebijakan di tingkat pemerintah tapi bisa kita lakukan dari skala terdekat yaitu kampus.

Kampus bebas plastik

Sejak adanya pandemi, kegiatan di kampus berkurang sehingga sampah di lingkungan kampus tentunya juga berkurang. Kita berharap seterusnya setelah kampus dibuka dan mulai kegiatan offline seperti dulu, pengelolaan sampah lebih diperhatikan. Diharapkan kampus membuat kebijakan pro lingkungan, misalnya pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Kampus ini memiliki aktivitas yang sangat padat setiap harinya dan tidak sedikit masyarakat yang berada di lingkungan kampus baik karyawan, tenaga pendidik, maupun mahasiswa yang belajar dilingkungan kampus. Kampus juga merupakan sarana edukasi yang efektif untuk mengubah kebiasaan mahasiswa dan tenaga pendidiknya guna mendukung pengunaan produk-produk reusable dan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai.

Untuk menekan permasalahan plastik, kita sebagai mahasiswa dapat menerapkan kebijakan pengurangan plastik sekali pakai dengan membuat target tahapan pengurangan plastik. Misalnya, pertama adalah pengurangan sedotan plastik. Kedua, pengurangan plastik kresek. Ketiga dan terakhir, pengurangan plastik-plastik pada saat kegiatan. Hal ini tidak mudah dilakukan karena butuh proses dan waktu untuk penyesuaiannya.

Selanjutnya kita juga dapat mendorong otoritas kampus untuk membentuk dan mempersiapkan sistem pengumpulan dan pengelolaan sampah serta membuat mekanisme pengawasan dan pemberian sanksi, termasuk insentif serta disinsentif jika diperlukan. Setelah adanya hal-hal ini kita harus mengkampanyekan dan mendorong inisiatif civitas terkait pengurangan sampah plastik sekali pakai.

Penutup

Plastik sejatinya adalah lawan dan teman dalam kehidupan kita. Plastik tidak mudah dilepaskan dari tiap aktivitas kita karena murah dan mudah di gunakan. Plastik adalah permasalahan bersama umat manusia, oleh karenanya penanggulangannya tidak dapat diserahkan pada masing-masing individu pengguna plastik. Pendekatan baru yang lebih tersistem, berkelanjutan, dan memaksa agaknya perlu diterapkan demi keberhasilan usaha bersama dalam menyelamatkan lingkungan kita dari kejahatan plastik.

Semoga dapat menjadi renungan.

By the way, Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia untuk yang membaca pada waktu tulisan ini diunggah.

[1] Research Jenna Jambeck, Plastic Waste Inputs From The Land Into The Ocean “https://dietkantongplastik.info/download/riset-jenna-jambeck-plastic-waste-inputs-land-ocean/”

[2] https://news.detik.com/foto-news/d-5304202/tpst-piyungan-disegel-warga-sampah-membludak-di-jalanan

[3] https://konsultanmanajemencsr.com/mengetahui-konsep-community-empowerment-di-indonesia/

[4] https://www.materidigital.com/pengertian-capacity-building-dan-contoh-penerapannya “Secara umum capacity building adalah proses atau kegiatan memperbaiki kemampuan seseorang, kelompok, organisasi atau sistem untuk mencapai tujuan atau kinerja yang lebih baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *