Gejolak Kawula Muda: Narasi Anak Muda dalam Wacana Bapak-isme

oleh: Dzaki Aribawa — Penyuka Hip-Hop dan Kultur Pop

Antara himpitan kejenuhan akan sendunya muka Tuti Aditama

Serta mimpi kepemilikan Diamond Back edisi delapan lima

Terbitlah bocah dari sempitnya mukim padat Jakarta

Lupakan siaran niaga, jargon dekade ini gejolak kawula muda

Pahlawanku Turbo

Bukan pesulap kurikulum sebangsa Nug Notosusanto

– Testamen — Doyz ft. Morgue Vanguard

Lirik lagu “Testamen” yang dibawakan dua pelontar rima beringas favorit saya, Doyz dan Morgue Vanguard (Ucok ‘Homicide’ a.k.a Herry Sutresna) adalah pemandangan kehidupan anak muda medio 80-an. “Testamen” berkisah tentang anak-anak muda yang kepalang muak dengan kehidupan saat itu: tontonan yang membosankan (Toeti Adhitama adalah pembawa berita ‘Dunia dalam Berita’ di TVRI era 80-an) atau doktrin institusi negara yang dogmatis (Nug atau Nugroho Notosusanto adalah sejarawan militer yang pernah menjabat sebagai Mendikbud era Orde Baru). Kemuakkan ini sejenak dilupakan dengan kegandrungan pada suatu yang ‘baru’ dan ‘bukan ketimuran’ dengan semakin populernya konsumsi budaya barat atau westernisasi yang harus dihindari itu, misalnya barang-barang impor (Diamond Back adalah merek sepeda BMX) atau tontonan dan kultur barat (Turbo adalah tokoh pada film Breakin’, film Amerika Serikat yang mengisahkan tentang kultur breakdance). [1]

Demikianlah anak muda hingga hari ini tidak pernah luput dari perhatian negara, karena selain secara historis memiliki peranan penting dalam struktur sosial masyarakat Indonesia, mereka berbahaya lantaran tidak sesuai dengan kepribadian bangsa dan Pancasila (konsumeristik, kebarat-baratan, suka teler dan nonton porno), serta karena beberapa diantaranya doyan kritik.

Perang Wacana Anak Muda

Untuk mendudukkan wacana mengenai anak muda, saya berangkat dari konsepsi Bennedict Anderson yang menyatakan bangsa adalah sebuah komunitas politis yang dibayangkan dengan terbatas secara inheren dan berkedaulatan (Anderson, 2008: 8). Berangkat dari konsepsi Anderson, eksistensi bangsa (nation atau negara) lahir atas proses pembayangan atas sebuah komunitas politis — dalam hal ini adalah bangsa atau negara Indonesia.

Salah satu pembayangan atas sebuah komunitas kebangsaan bernama ‘Indonesia’ itu hadir melalui sebuah konsepsi “keluarga besar” yang kerap digunakan oleh praktik kekuasaan di Indonesia. Saya Shiraisi dalam studinya mengatakan bahwa Indonesia dibangun layaknya sebuah keluarga besar, dimana terdapat “Bapak” “Ibu” dan “Anak” (Shiraishi dalam Yudhistira, 2010: 10). Gagasan keluarga besar yang diteliti oleh Shiraisi tidak hanya tampak pada era kekuasaan Orde Baru saja, ia memiliki akar historis yang mengakar kuat hingga hari ini yang biasa disebut “Bapak-isme”.

Tengok bagaimana kemarahan Presiden Soekarno merespons tindakan mahasiswa yang mencoret rumah salah seorang istrinya dengan kalimat yang merendahkan secara seksual dengan mengatakan “…Hartini adalah isteriku dan aku adalah bapakmu, jadi dia juga ibumu. Inikah yang dilakukan oleh seorang anak terhadap Ibunya?” (Gie, 1993: 198). Terbaru, adalah bagaimana Achmad Yurianto (eks Jubir Satgas Covid-19) dalam sebuah sesi wawancara yang menganalogikan manajemen tata kelola negara dalam menangani Pandemi Covid-19 yang melakukan membatasi akses informasi Covid-19 layaknya orang tua yang menahan informasi demi kebaikan anaknya (Arif dan Nugroho, 2020: 1–2).

Karena dianggap sebagai seorang anak yang kelak nantinya akan meneruskan apa yang telah dirintis oleh orang tua nya, maka anak — dalam hal ini anak muda — adalah harapan bangsa. Oleh sebab itu, mereka harus diawasi, dibina, dan diselamatkan agar sejalan dengan gagasan-gagasan orang tua nya. Sikap kehati-hatian orang tua ini tidak lepas dari perilaku anak muda yang suka hura-hura dan aktivitas aktivis mahasiswa yang kerap mengkritik pemerintah. [2]

Mereka yang Bandel

Sebagai harapan bangsa, tentu negara memiliki perhatian besar pada kebiasaan anak-anak muda yang dianggap tidak sesuai dengan norma dan kepribadian ‘keluarga’-nya. Anggapan soal kebiasaan anak muda yang tidak mau diatur, dan urak-urakan, suka mabukdan melakukan pergaulan bebas ditunjukkan salah satunya melalui budaya tontonan di televisi hari ini. Lihat bagaimana negara melalui otoritas keamanannya — aparat kepolisian — melanggengkan persepsi nya pada kebiasaan ini melalui acara 86 yang disiarkan di NET TV.

Lihat bagaimana Remotivi melalui analisisnya mengenai acara polisi “86” memperlihatkan bagaimana aparat kepolisian dalam acara “86” mempertontonkan otoritas dan superioritas moral untuk menindak perilaku anak muda. Polisi, layaknya seorang orang tua merupakan figur yang memiliki otoritas sebagai pihak yang menentukan salah dan benar melalui kemampuannya berceramah. Remotivi juga menunjukkan bagaimana kata ‘sayangnya’ sebagai respon paling sering aparat kepolisian terhadap perilaku bejat anak muda. Oleh sebab itu, serupa orang tua yang menyayangi anaknya, rasa sayang polisi dalam acara 86 adalah alasan untuk menertibkan anak muda yang pacaran di pinggir kali, berpenampilan seperti lawan jenis, atau esek-esek di dalam mobil. Dengan demikian, aparat kepolisian sebagai representasi negara, tidak hanya memiliki peranan sebagai aparat penegak hukum, melainkan juga sebagai polisi moral yang berhak menegakkan nilai-nilai ‘kepribadian bangsa’, seperti tata krama dan budaya kesponanan yang mereka anggap benar.

Mereka yang Berisik

Narasi mengenai nilai-nilai ‘kepribadian bangsa’ itu nyatanya tidak berhenti pada anak muda yang diproyeksikan sebagai mereka yang bandel saja. Presiden RI, Joko Widodo dalam kesempatan jumpa pers di depan Istana Negara pada 29 Juni 2021, menyampaikan pendapatnya terkait kritik yang dilontarkan BEM UI melalui platform sosial media resmi mereka dengan tajuk “Jokowi: The King of Lip Service?” kepada dirinya, ia menjawab: “… Jadi kritik itu boleh-boleh saja, dan universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa untuk berekspresi, tapi juga ingat, kita ini memiliki budaya tata krama, memiliki budaya kesopan-santunan, saya kira biasa saja…”.

Pernyataan yang disampaikan oleh Presiden ini sejatinya melanggengkan apa yang disampaikan oleh Yudhistira (2020: 129) sebagai kemenduaan yang implisit dalam sebuah petuah. Di satu sisi, Presiden mengakui kritik itu boleh karena bagian dari kebebasan berekspresi, namun apa yang disampaikan oleh BEM UI itu (setidak-tidaknya) tidak sesuai dengan kebudayaan dan tata krama di masyarakat. Sehingga alih-alih menjawab kritikan mahasiswa, Presiden hanya mengomentari soal metode penyampaiannya.

Seperti halnya seorang anak dengan orang tua nya, kebebasan mengkritik atau kesediaan orang tua untuk menerima kritikan dari anaknya, kerap kali sebenarnya harus disampaikan sesuai dengan apa yang ingin didengarkan oleh yang dikritik — kritik yang konstruktif. Sehingga, barangkali agar dapat ditanggapi oleh pejabat negara dengan layak, kritik yang disampaikan oleh mahasiswa harus sesuai dengan apa yang disampaikan Kejaksaan Agung pada awal 1970-an, yaitu kritik yang to the point, bersusila sopan, dan memberi alternatif atau solusi (Yudhistira, 2010: 100).

Gejolak Kawula Muda

Apa yang dimiliki oleh orang tua namun tidak pada anaknya? Jawabannya adalah pengalaman, orang tua pernah muda, sedangkan anak muda belum merasakan jadi tua. Sebagai anak zamannya, perbedaan cara pandang dan zeitgeist (semangat zaman) inilah yang setidak-tidaknya menciptakan jurang antar-generasi. Ada kecurigaan dan kecewaan anak muda pada orang tua dan ada keraguan orang tua pada anak muda.

Gejolak kawula muda: remaja yang hura-hura, mahasiswa yang suka kritik, hingga anak muda yang apatis sekalipun boleh jadi dilihat sebagai hilangnya idealisme sosok yang patut dipatuhi dan dicontoh. Namun mereka yang tua pernah muda: mereka pernah kecewa dan mencurigai orang tua mereka. Oleh sebab itu, orang tua memiliki tanggung jawab setidak-tidaknya untuk memperlihatkan idealisme anak muda masih bisa dicontoh dari tindakan mereka. Mahasiswa hukum, misalnya, tidak perlu lagi melihat apa yang digambarkan Soe Hok Gie, 52 tahun yang lalu: “Dan mahasiswa hukum mengetahui bqhwa di atas hukum terdapat hukum jang tidak tertulis. Tentara, djaksa, dan garong-garong jang punja koneksi.”

[1] Lihat bagaimana film Indonesia tahun 1985 karya Maman Firmansjah yang berjudul “Gejolak Kawula Muda” menceritakan konflik antar-generasi karena persoalan budaya, salah satunya soal Breakdance atau Tari Kejang.

[2] Saya menggunakan klasifikasi ‘apolitis’ dan ‘politis’ yang digunakan Aria Wiratma Yudhistira dalam mengkategorikan anak muda pada buku “Dilarang Gondrong!: Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an”

Refrensi

Anderson, Bennedict, 2001, Imagined Communities: Komunitas-Komunitas Terbayang, terj. Omi Intan Naomi, INSIST dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Yudhistira, Aria Wiratma, 2010, Dilarang Gondrong! Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an”, Marjin Kiri, Tangerang Selatan

Arif, Muhammad dan Nugroho, Sigit S., 2020, “Bapakism in Jokowi’s Pandemic Handling: The Cultural Dimension”, RSIS Commentaries, №133, RSIS Commentaries, Nanyang Technological University, Singapore

Gie, Soe Hok, 2005, “Catatan Seorang Demonstran”, Pustaka LP3ES, Jakarta

KOMPASTV, 2021, “Presiden Joko Widodo Menanggapi Kritikan yang Disampaikan oleh BEM UI” https://www.youtube.com/watch?v=yeiFVN1NN9c diakses pada 1 Agustus 2021

Remotivi, 2017, “Awas 86” https://www.youtube.com/watch?v=5u7xh5PTs4Qdiakses pada 2 Agustus 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *