COVID-19: Apakah Kata ‘Bencana’ Sudah Tepat?

Oleh: Natalische Ramanda Ricko Aldebarant — Mahasiswa dengan Wawasannya yang Masih Kemarin Sore

Wabah virus corona atau coronavirus disease merupakan virus yang saat ini sedang menjadi perhatian masyarakat internasional. Hal itu membuktikan bahwa virus beserta karakteristik yang melekatinya mampu meminta perhatian masyarakat seperti halnya tren pakaian dan musik. Virus yang saat ini sedang menjadi perhatian itu menjadi penyebab permasalahan multi sektoral negara yang terdampak. Dilansir dari BBC News coronavirus disease dapat menyebabkan kesusahan di berbagai aspek kehidupan manusia. Maka dari itu, di dalam tulisan ini sedikitnya hendak membahas sisi menarik fenomena COVID-19 yang tidak sulit dan boleh untuk diketahui.

Coronavirus disease 2019 pertama kali ditemukan keberadaannya di Wuhan, Provinsi Hubei, China pada akhir tahun 2019. COVID-19 dapat ditularkan dari manusia ke manusia hingga pada tanggal 12 Maret 2020 WHO mengumumkan bahwa COVID-19 sudah menjadi pandemik global. Menyusul pernyataan tersebut fakta yang disampaikan oleh WHO pada tanggal 29 Maret 2020 menyebut ada 634.835 kasus dan 33.106 diantaranya merupakan jumlah kematian di seluruh dunia. Sejak dimulainya kasus COVID-19 dikenal dengan istilah social distancing atau yang telah diklarifikasi oleh WHO menjadi physical distancing sebagai cara untuk melakukan pencegahan kasus yang kian bertambah. Meskipun begitu, physical distancing pun juga memiliki dampaknya sendiri. Bahkan dampak yang disebabkannya cukup nyata terutama dalam aspek sosial dan ekonomi warga negara. Contoh konkretnya adalah ketika mudik yang sudah menjadi agenda rutin tahunan masyarakat di Indonesia dilarang untuk dilakukan. Menurunnya taraf hidup masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor UMKM juga menjadi contoh aspek ekonomi yang sedang terganggu. Menilik banyaknya sektor produksi yang terdampak baik secara langsung maupun tidak mengindikasikan roda perekonomian sedang terganggu ditambah dengan pernyataan BKF Kemenkeu tentang perekonomian Indonesia yang mengalami resesi. Menyusul hal-hal yang demikian, jumlah kasus yang tidak sedikit disertai dengan analisis dampak yang mengikutinya mungkin saja menjadi alasan bagi media-media pemberitaan menyematkan kata ‘bencana’ ketika memuat tentang COVID-19.

Pernahkah kita menyadari bahwa di dalam sejumlah berita yang memberitakan tentang COVID-19 sering kali kedapatan kata ‘bencana’?. Apakah kalian pernah bertanya mengapa kata bencana disematkan dalam pemberitaan sebuah virus?. Bukankah virus yang kita kenal merupakan persoalan yang biasa-biasa saja dan bukan merupakan sebuah urgensi sampai-sampai disebut bencana?. Seperti itulah kurang lebihnya ketika menyadari bahwa pemberitaan-pemberitaan terkait COVID-19 hampir selalu ditemui kata ‘bencana’ dalam redaksinya. Menurut saya, hal itu merupakan sesuatu yang menarik untuk dibahas karena kurang pas rasanya media-media pemberitaan melakukannya dengan tanpa alasan yang jelas dan barulah selanjutnya disimpulkan sependek pemikiran penulis tentang hal demikian. Maka, paragraf selanjutnya mencoba menilai penggunaan kata ‘bencana’ dalam pemberitaan COVID-19 dan setelahnya membahas tentang apa yang menjadi latar belakang hal tersebut.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan pengertian tentang ‘bencana’ yang secara garis besar dapat dipahami sebagai sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan. Berarti maksud dari kata ‘bencana’ dalam pemberitaan COVID-19 tidak jauh dari apa yang dimaksud dengan menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan. Kembali pada perkembangan kasus COVID-19 yang sudah saya jelaskan pada paragraf pendahuluan telah memaksa saya untuk sepakat bahwa coronavirus bukanlah virus yang dapat dianggap remeh. Mengaca pada jumlah kasus sampai dengan korban meninggal yang itu terbilang tidak sedikit saya rasa cukup untuk dapat meyakinkan kita semua agar sependapat dengan pernyataan di kalimat sebelumnya. Serta sudah seharusnya pula kita sepakat bahwa COVID-19 dalam penanggulangannya memerlukan perhatian baik dari pemerintah maupun masyarakat. Apalagi dengan melihat kenyataan sekarang masyarakat mulai lengah, pribadi semakin abai, dan pemerintah yang sejak awal tidak fokus malah cenderung memanfaatkannya untuk mengesampingkan aspirasi rakyatnya.

Akan tetapi jika hanya itu alasan penyematan kata ‘bencana’ dalam redaksi pemberitaan menurut saya masih belum cukup meyakinkan. Setelah menilik lebih jauh pasti ada alasan lain lagi yang dapat membantu meyakinkan kita bahwa penggunaan kata ‘bencana’ dalam redaksi pemberitaan sudah tepat dan tidak cenderung melebih-lebihkan. Alasan pertama sudah kita bahas terkait jumlah kasus sampai yang meninggal dan yang kedua berdasarkan data yang dikeluarkan oleh New England Journal of Medicine melalui beberapa korespondensinya dan ditambah juga dengan jurnal virologi medis yang diterbitkan oleh Wiley COVID-19 berkemampuan tinggi dalam hal penyebarannya. Tidak hanya puas disitu, cara coronavirus bermutasi dampaknya cukup fatal bagi ketahanan populasi dan disitulah masalahnya. Lalu, permasalahannya adalah mengapa kita masih merasa bahwa COVID-19 tetap belum bisa kita anggap layaknya sebuah bencana pada umumnya?.

Sebenarnya mengapa kita merasa aneh dengan kata ‘bencana’ dalam pemberitaan COVID-19 lebih banyak dipengaruhi oleh anggapan kita terhadap virus itu sendiri. Faktanya, saya tidak hanya sekali atau dua kali menjumpai tanggapan orang terdekat saya terkait COVID-19 yang itu menurut saya adalah sebuah contoh mispersepsi. Tanggapan seperti “itu hanya virus” dan “asalkan diri sendiri bersih pasti terhindar dari virus itu” atau bahkan “yang penting bahagia pasti virus itu tidak akan bisa masuk” sudah tidak lagi sepenuhnya tepat setelah memahami uraian paragraf sebelumnya. Menilai dari tanggapan — tanggapan tersebut dan tanggapan yang serupa dengan itu menyudut pada asumsi bahwa masyarakat pada umumnya menganggap enteng hal itu. Padahal yang perlu dipahami saat ini adalah virus itu merupakan bentuk generalisasi saja sedangkan jenis dari virus itu sendiri berbagai macam dan karakteristik virus yang satu dengan yang lainnya tidak dapat disamakan seperti halnya coronavirus hendak disamakan dengan avian influenza (flu burung). Bahkan virus yang jenisnya sama namun dalam gelombang yang berbeda dapat memiliki karakteristik yang sudah berbeda pula.

Berawal dari mispersepsi segala kemungkinan buruk dapat terjadi. Sebagai contohnya adalah sikap masyarakat terhadap physical distancing yang seperti tidak memaknainya dengan sungguh-sungguh. Contoh lain juga terlihat dari pemberitaan-pemberitaan kasus COVID-19 yang semangatnya kian menurun dan seakan menuju abai. Berawal dari mispersepsi pula menyebabkan masyarakat menilai COVID-19 tidak lagi sebagai ancaman serius, lalu dari hal tersebut akan berpengaruh pada cara hidup yang seharusnya. Sehingga kemungkinan untuk tertular virus juga semakin besar dan sebagai yang sedang tidak beruntung akan mendapati dirinya terpapar hingga harus dikarantina selama beberapa hari. Maka, jika kita bertolak pada uraian tersebut justru akan memutarbalikan sebab dan akibat COVID-19. COVID-19 disebabkan oleh coronavirus dan berakibat pada manusia, namun satu hal yang penting untuk diketahui adalah di waktu yang akan datang menjadi mungkin penyebabnya berganti menjadi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus mengawalinya dengan membangun anggapan bahwa COVID-19 adalah sebuah ‘bencana’ agar kita sebagai anggota masyarakat sekaligus sebagai pribadi yang peduli tidak hanya menggantungkan pada skenario herd immunity dan agar rehabilitasi yang menjadi kebijakan pemerintah dapat berlaku efektif dan mendekati tepat.

Redaksi yang dipilih oleh beberapa media pemberitaan sebenernya tidak salah ketika kita memandang dari sudut pandang preventif. Apa yang harus dibenahi saat ini adalah anggapan kita terhadap COVID-19 agar terhindar dari mispersepsi. Saya sendiri sadar sebenarnya yang jauh lebih tepat untuk dibenarkan adalah anggapan kita terhadap virus itu sendiri karena itu penting. Dalam hal ini, saya memaknai adanya kemungkinan terburuk berawal dari anggapan, ketika kita menganggap sebuah pandemik bukanlah sebuah ancaman tingkat kewaspadaan kita pun tidak sedang pada porsi yang seharusnya. Maka herd immunity sebagai seleksi populasi manusia bukan tidak mungkin untuk tidak terjadi. Oleh karena itu, upaya preventif yang paling pertama dilakukan adalah menciptakan anggapan terhadap COVID-19 bahwa itu merupakan ‘bencana’ dan merupakan ancaman. Sebagai yang belum terdampak tidak harus menjadi yang terdampak karena belajar dari pengalaman orang lain membuatnya bijaksana. Sehingga, tidak harus berupaya menjadi terlihat dewasa hanya karena pengalamannya sendiri. Itulah sebabnya diperlukan kesadaran yang tidak hanya ada di perkataan saja namun sudah seharusnya kesadaran itu mampu terinternalisasi dalam diri setiap warga masyarakat khususnya mahasiswa. Maka, kesimpulannya adalah redaksi berita yang menggunakan kata ‘bencana’ tidak salah karena yang lebih penting untuk diperhatikan adalah anggapan kita terhadap COVID-19 itu sendiri.

Sumber saya:

Goyal, Parag, et al. “Clinical Characteristics of Covid-19 in New York City.” New England Journal of Medicine (2020). https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMc2010419?query=featured_coronavirus.

Kamus Besar Bahasa Indonesia. https://kbbi.web.id/bencana.

Kwok, Kin On, et al. “Herd immunity–estimating the level required to halt the COVID-19 epidemics in affected countries.” Journal of Infection (2020). https://www.journalofinfection.com/article/S0163-4453(20)30154-7/pdf.

Setiawan, Yusufa I. S. “Penetapan Karantina Wilayah Menurut Pandangan Legal Positivisme Dalam Rangka Pencegahan dan Pemberantasan Pandemi Coronavirus Disease (covid)-19.” OSF Preprints, 8 April 2020. https://osf.io/zfg6x.

Susilo, Adityo, et al. “Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini.” Jurnal Penyakit Dalam Indonesia 7. 1 (2020): 45–67. http://jurnalpenyakitdalam.ui.ac.id/index.php/jpdi/article/view/415/228.

Wijaya, Callistasia. “Dampak Virus Corona Bagi Indonesia: ‘Sepi Turis hingga Berpotensi Gerus Nilai Ekspor’.” BBC News Indonesia, 6 Februari 2020. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51369660.

World Health Organization. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Situation Report — 70. https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200330-sitrep-70-covid-19.pdf?sfvrsn=7e0fe3f8_2.

World Health Organization. WHO Director-General’s opening remarks at the media briefing on COVID-19–11 March 2020. https://www.who.int/dg/speeches/detail/who-director-general-s-opening-remarks-at-the-media-briefing-on-covid-19—11-march-2020.

Yang, Yi, Weilong Shang, dan Xiancai Rao. “Facing the COVID‐19 outbreak: What should we know and what could we do?.” Journal of medical virology (2020). https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1002/jmv.25720.

Suwiknyo, Edi dan Hadijah Alaydrus. “Akui Indonesia Resesi, Ini Penjelasan Pemerintah”. 2 Oktober 2020. https://ekonomi.bisnis.com/read/20201002/9/1299661/akui-indonesia-resesi-ini-penjelasan-pemerintah#:~:text=Kepala%20Badan%20Kebijakan%20Fiskal%20(BKF,sejak%20awal%20kuartal%20I%2F2020.&text=Tahun%20ini%2C%20dia%20memperkirakan%20ekonomi,sampai%20minus%200%2C6%20persen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *